Hari Raya Idul Fitri Refleksi Diri Kembali ke Fitrah

Surabaya – Hari Raya Idul Fitri momen refleksi diri kembali ke fitrah, terlepas dari kondisi fisik atau materi, dirayakan bukan tentang “ajang pamer” namun keberhasilan dalam pengendalian dan pembersihan diri. Seringkali terdapat perbedaan tanggal perayaan antara pemerintah melalui Kementerian Agama dan Organisasi Kemasyarakatan yang disebabkan oleh metode penentuan awal bulan yakni antara metode “hisab” perhitungan astronomis dan “rukyatul hilal” pengamatan bulan secara langsung.

“Hari Raya Idul Fitri”, khususnya kaum urban identik dengan mudik kembali ke kampung halaman, perjalanan merawat tradisi dan silaturahmi. Fenomena unik di kota besar menjadi sepi, sebagian warga meninggalkan untuk mudik ke kampung halaman. Pertukaran uang tunai menjadi uang pecahan baru untuk dibagikan kepada keluarga adalah perpaduan antara tradisi dan gaya hidup modern yang menjadi bagian dari perayaan.

Bacaan Lainnya

Di era reformasi ini cukup berat dirasakan oleh sebagian masyarakat dalam merayakan “Hari Raya Idul Fitri” Faktor yang membuat banyak orang merasa “susah” atau tertekan disebabkan oleh tingginya biaya kebutuhan hidup dan seringkali menjadi beban finansial yang berat bagi banyak keluarga. Tidak semua orang memiliki hubungan keluarga yang harmonis. Berkumpul dengan keluarga besar membawa tekanan mental. Pertanyaan basa-basi sensitif seperti “kapan nikah?”, “kapan punya anak?”, “kerja di mana?”, ” rumah sendiri atau kontrak?”, yang dapat membuat suasana menjadi tidak nyaman dan bisa melukai perasaan. Berdasarkan konteks sosial, perasaan “susah” atau tertekan saat Hari Raya Idul Fitri adalah manusiawi dan di alami oleh sebagian masyarakat. Hari Raya Idul Fitri diidentikkan dengan mudik, baju baru, makanan berlebih, dan bagi-bagi angpao yang dapat menimbulkan beban finansial saat kondisi ekonomi berantakan.

Dalam ajaran Islam setiap kesedihan, kesusahan, atau beban mental yang dialami manusia termasuk saat hari raya dapat menjadi penggugur dosa jika dihadapi dengan sabar dan rida. Idul Fitri pada hakikatnya adalah kembali ke fitrah (kesucian) dan wujud syukur bukan pada kemewahan, fokus pada saling memaafkan dan mengabaikan tekanan sosial atau beban. Hari Raya Idul Fitri yang seharusnya menjadi kemenangan, bisa terasa sangat berat atau “terjajah” dikarenakan berbagai alasan. Merayakan tanpa orang tua yang telah berpulang ke Rahmatullah dapat memicu rasa sedih yang mendalam.

Saat hari raya tidak mudik karena tidak memiliki kampung halaman adalah wajar terutama bagi yang lahir dan besar di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Bukan berarti tidak bisa merayakan hari raya, banyak orang mengalami hal yang sama dan tetap bisa berkumpul bersama keluarga terdekat yang berada di kota yang sama. Bagi yang tidak mudik atau hidup jauh dari keluarga menjadi terasa sangat sepi dan menyedihkan tetap berada di perantauan untuk pekerjaan.

Tidak mudik karena rumah di kampung halaman telah dijual merupakan situasi yang umum dialami, setelah orang tua meninggal dunia atau seluruh keluarga besar telah berpindah. Meskipun tak ada lagi kampung halaman untuk dikunjungi, hubungan kerabat dan tetangga lama di kampung tetap bisa dijaga dengan mengirimkan bingkisan atau parsel ke sanak saudara di kampung sebagai bentuk perhatian dan mengunjungi kampung halaman untuk berziarah ke makam orang tua.

Bagi yang tidak mudik tetap bisa merayakan dengan cara silaturahmi virtual menggunakan via video call untuk tetap terhubung dan bermaaf-maafan dengan keluarga yang dikampung dan memanfaatkan waktu libur menghidangkan masakan khas yang biasa ada di rumah kampung seperti ketupat, opor ayam, atau rendang.

Selain uraian diatas sebagai bentuk penghargaan negara terhadap narapidana atau warga binaan beragama Islam yang memenuhi syarat administratif dan berkelakuan baik serta aktif dalam program pembinaan mendapatkan remisi khusus Hari Raya Idul Fitri dengan potongan masa hukuman berkisar 15 hari hingga 2 bulan, juga remisi khusus II RK yang memungkinkan langsung bebas.

Hari Raya Idul Fitri bukan untuk orang kaya atau miskin, tanpa memandang status sosial. Inti “Idul Fitri” kembali kepada fitrah, dan perayaannya bersifat inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Di penghujung penulisan menyampaikan, “Selamat Idul Fitri 1447 H” Taqabbalallahu minna wa minkum. “Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”. Semoga mendapatkan keberkahan. Aamiin.

Kontributor: Eko Gagak

Ikuti Saluran Media Panjinusantara di aplikasi WhatsApp, Instagram, Facebook, Channel Youtube (Silahkan klik tulisan nama aplikasi)

Pos terkait