SURABAYA, – Momentum Hari Kesaktian Pancasila dinilai telah kehilangan taringnya dan terjebak dalam seremoni tahunan yang kosong. Aktivis sekaligus pengamat sosial, Eko Gagak, secara lantang menyatakan bahwa Pancasila tak lagi sakti. Menurutnya, keruntuhan ini bukan karena kelemahan lima silanya, melainkan akibat pengkhianatan sistemik oleh para penyelenggara negara serta hancurnya moralitas bangsa.
Eko Gagak menegaskan bahwa musuh utama ideologi negara semenjak reformasi hingga kini bukan lagi pemberontakan fisik tragedi kelam G30S/PKI, melainkan gurita korupsi dan kemiskinan struktural.
“Ketika korupsi dianggap biasa dan kemiskinan rakyat diabaikan, maka kita sedang meminum darah para Pahlawan Revolusi yang gugur demi tegaknya Pancasila,” ujar Eko Gagak dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026).
Menurut Eko Gagak, nilai-nilai luhur Pancasila yang seharusnya menjadi karakter nyata dalam kehidupan sehari-hari, telah putus total akibat ambisi buta kekuasaan. Ia membedah pergeseran makna mengerikan yang terjadi pada kelima sila saat ini:
Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa telah bergeser secara pragmatis menjadi “Keuangan Yang Maha Kuasa”, di mana uang mengendalikan moral dan hukum.
Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berubah wajah menjadi ketimpangan sosial ekstrem dan kebiadaban sosial.
Sila ke-3: Persatuan Indonesia dan semangat gotong royong telah runtuh, digantikan oleh budaya individualistis yang egois.
Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan telah dibajak oleh syahwat politik elit dan cengkeraman oligarki.
Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia telah mati, ditandai dengan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Lebih lanjut, Eko Gagak memperingatkan bahwa selama tidak ada pembersihan total pada sistem bernegara dari cengkeraman keserakahan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober hanya akan menjadi ritual kemunafikan belaka. Bangsa ini harus berani melakukan refleksi radikal sebelum sistem bernegara benar-benar hancur sepenuhnya.
“Pada bagian akhir, penulisan tanpa pamrih dan bayaran ini menekankan bahwa diperlukan revolusi moralitas penegak hukum, pemangkasan gurita oligarki, serta pengembalian kedaulatan penuh ke tangan rakyat jika bangsa ini ingin selamat dari ambang kehancuran sistemik,” pungkas Eko Gagak. (Red)
Kontributor: Eko Gagak
Ikuti Saluran Media Panjinusantara di aplikasi WhatsApp, Instagram, Tiktok, Facebook, Channel Youtube ( Silahkan klik tulisan nama aplikasi )






