Surabaya – Menjelang berakhirnya Bulan Suro atau Muharram 1447 Hijriah, Forum Perjuangan Lokamandiri (FPL) bersama Sanggar Sekar Wangi dan warga menggelar ritual budaya nyadran (ziarah) ke makam Mbah Kapiludin, yang dirangkai dengan tasyakuran sekaligus menjadi momen perayaan ke-10 tahun berdirinya FPL.
Kegiatan dimulai pukul 14.00 WIB, dari Jalan Jarak 88, ditandai dengan arak-arakan atau kirab budaya membawa pataka, tumpeng, serta uba rampe sesaji Suro yang dihantarkan menuju makam Mbah Kapiludin, diiringi kesenian tradisional jaranan “Satrio Pardowo Sejati” pada Juamt (25/07/2025).
Tumpeng nguri-uri budaya makam merupakan tradisi dengan cara menyajikan tumpeng di tata dengan berbagai lauk pauk di area makam atau kuburan, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan mempererat tali silaturahmi antar warga.
Lestarikan Tradisi, Jaga Kearifan Lokal
Dalam konteks ini, tradisi membuat tumpeng di makam merupakan upaya untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini mengandung nilai-nilai luhur kearifan lokal dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat.
Sementara itu, nyadran adalah tradisi yang tercipta dari proses akulturasi antara budaya Jawa dengan budaya Islam yang mencerminkan harmoni spiritual dan sosial dalam kehidupan masyarakat.
Sosok yang akrab disapa Cak Kanan, mengapresiasi kegiatan ini sebagai sarana untuk melestarikan budaya gotong royong serta memperkuat kekompakan dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Dari Reformasi hingga Kini, Eko Gagak Tetap Menjadi Sosok Vokal Perubahan Sosial di Surabaya
“Tradisi ini penting sebagai bentuk pelestarian budaya gotong royong serta memperkuat kekompakan dan rasa guyub rukun,” ucap Cak Kanan, salah satu tokoh masyarakat yang hadir.
Setibanya di lokasi makam, prosesi nyadran dimulai dalam suasana khidmat dengan memanjatkan doa untuk arwah leluhur. Doa dipimpin oleh Ibu Endang, selaku pimpinan Sanggar Sekar Wangi, yang memandu jalannya ritual dengan penuh kekhusyukan.
Minim Perhatian Pemerintah, Potensi Kawasan Belum Tergarap
Sayangnya, tidak terlihat kehadiran perwakilan dari Pemkot Surabaya, begitu pula Kelurahan, maupun Kecamatan dalam kegiatan ini. Hanya anggota Polsek dan Koramil yang dikerahkan untuk mengamankan serta menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung agar berjalan dengan aman dan kondusif.
Mbah Kapiludin dikenal sebagai sesepuh atau tokoh babat alas di kawasan tersebut. Makamnya diprediksi telah ada sejak ratusan tahun silam dan diyakini memiliki keterkaitan erat dengan tokoh penyebar Islam di Surabaya, seperti Sunan Ampel dan Mbah Karimah dari Kembang Kuning.
Pemkot Surabaya berencana merevitalisasi kawasan ini menjadi wisata religi karena keberadaan makam Mbah Kapiludin yang terletak di Kupang Gunung Timur Gang VII, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan.
Namun, tidak ada penanda khusus keberadaan makam, hanya ada plang berwarna hijau bertuliskan, “Makam Mbah Kapiludin” tepat di pintu masuk atau gapura, akses jalan menuju lokasi makam dengan lebar sekitar satu meter ke makam dan kurang luas.
Baca Juga: Status Hukum Berubah, Terdakwa Korupsi Suharsono Dipindah dari Tahanan Kota ke Rutan
Akses yang terbatas ini dinilai belum layak, padahal keberadaan situs tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi yang dapat mendongkrak perekonomian warga sekitar.
Pihak Pemkot Surabaya hingga saat ini masih belum memberikan perhatian yang maksimal, semestinya area di sekitar makam diperluas dan ditata dengan perencanaan yang matang, bukan asal-asalan, agar pengunjung merasa aman dan nyaman tanpa mengganggu aktivitas warga lainnya.
Aset Terbengkalai Pascapenutupan Dolly
Tak hanya itu, di perkirakan 30 aset eks wisma milik Pemerintah Kota Surabaya, diperkirakan masih ada sembilan aset yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.
Penutupan kawasan prostitusi Dolly oleh Pemkot Surabaya saat Tri Rismaharini menjabat sebagai Wali Kota memang membawa perubahan signifikan.
Namun, dampaknya membuat banyak warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari aktivitas ekonomi di kawasan tersebut—seperti berjualan makanan dan minuman, jasa cuci pakaian, hingga pengelolaan lahan parkir—kehilangan mata pencaharian.
Harapannya, semoga kegiatan uri-uri budaya seperti nyadran dan tumpengan yang digelar masyarakat dapat terus menjadi tradisi yang berkelanjutan.
Selain melestarikan nilai-nilai kearifan lokal, kegiatan ini juga diharapkan memberikan manfaat nyata bagi warga Kota Surabaya dan bangsa Indonesia secara umum.
(bersambung)
Kontributor : EKO GAGAK
Ikuti Saluran Media Panjinusantara di aplikasi WhatsApp, Instagram, Facebook, Channel Youtube (Silahkan klik tulisan nama aplikasi)






