MADIUN – Rembuk stunting merupakan forum musyawarah perencanaan partisipatif di tingkat desa atau kelurahan yang bertujuan membahas, merumuskan, serta menyepakati program pencegahan dan penanganan stunting secara terpadu.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam aksi konvergensi percepatan penurunan stunting nasional. Dalam rangka mendukung program tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Bantengan menggelar kegiatan rembuk stunting yang berlangsung di Balai Desa Bantengan, Kabupaten Madiun, pada Kamis (21/05/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur terkait, mulai dari perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Kader Pembangunan Manusia (KPM), hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Turut hadir pula tokoh masyarakat, tokoh agama, perwakilan PKK, tenaga kesehatan setempat seperti bidan desa, perwakilan Puskesmas, kader Posyandu, serta aparat keamanan dari unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas setempat
Dalam sambutannya, Sekretaris Desa Bantengan mewakili Kepala Desa menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia berharap rembuk stunting mampu menjadi langkah konkret menekan angka stunting, khususnya di wilayah Desa Bantengan.
“Semoga dengan adanya rembuk stunting ini diharapkan bisa membantu mengurangi jumlah stunting yang ada di desa khusus nya desa Bantengan,” ujarnya.
Lebih lanjut disampaikan, bahwa acara ini wajib dilaksanakan mengingat acara rembug stunting ini merupakan prioritas atau Mandatori dari pemkab Madiun. Dimana hasil dari acara ini akan dibawa menjadi acara agenda rutin tahunan sebagai titik awal perencanaan pembangunan desa yaitu musdus (musyawarah desa)
Melalui kegiatan Rembug Stunting Desa Bantengan ini, pemerintah desa bersama seluruh unsur terkait menunjukkan komitmen dalam mewujudkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Pada kesempatan tersebut, selaku perwakilan dari bidan atau kader posyandu setempat menyampaikan bahwa rembug stunting merupakan tugas semua sektor jadi tidak hanya tugas puskesmas, desa, masyarakat serta kader setempat, beliau menyampaikan bahwa kondisi stunting itu bisa berawal dari usia di dalam kandungan.
Efek dari stunting itu bermacam-macam contohnya ada gangguan perkembangan otak, daya tahan tubuh lemah, serta potensi masa depan anak berkurang.
Salah satu langkah utama dalam mencegah stunting adalah memastikan ibu hamil memperoleh asupan gizi yang cukup dan seimbang sejak masa kehamilan. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi dan kerja sama dari berbagai sektor agar stunting bisa dicegah.
Beliau berharap agar dengan adanya acara rembug stunting ini diharapkan masyarakat jadi lebih tau dan bisa menurunkan angka stunting di desa masing.(Gus)
Ikuti Saluran Media Panjinusantara di aplikasi WhatsApp, Instagram, Facebook, Channel Youtube ( Silahkan klik tulisan nama aplikasi )






